Ibnu Hazm, Ulama Radikal, Tegas, dan Keras


Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm atau lebih masyhur dengan sebutan Ibnu Hazm lahir di daerah tenggara kota Cordova (saat ini masuk dalam salah satu kota di Negara Spanyol)  pada hari terakhir Ramadhan 384 H sebelum terbitnya matahari dan ketika sang imam salat subuh selesai mengucapkan salam. Kelahiran  Ibnu Hazm ini bertepatan dengan 7 Nopember 994 M ia lahir di rumah ayahnya ketika jabatan menterinya sudah dijalani selama tiga tahun pada pemerintahan Al Hajib Al Manshur.

Sejarah kelahiran Ibnu Hazm ini telah diserahkan oleh Abu Muhammad dengan tulisan tangannnya kepada hakim Sa’id bin Ahmad Al Andalusi, perhatian dan ketelitian atas kelahirannya ini menunjukkan bahwa kedudukan keluarga Ibnu Hazm dikenal terpandang dan Mulia. 

Adapun waktu wafatnya mayoritas ulama berpendapat bahwa ia meninggal pada tahun 456 H bertepatan dengan bulan Sya’ban, pendapat ini didukung oleh para ulama ahli sejarah di antaranya adalah Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Al Imad. Beliau meninggal pada umur 72 tahun.

Masa Remaja

Ibnu Hazm adalah tokoh yang sangat luar biasa, berbeda dengan para ulama yang pernah dilahirkan oleh zaman kegemilangan Islam, dikatakan demikian karena ia adalah tokoh yang hidup dalam kesenangan dan fasilitas yang serba mewah, dan dari keluarga yang terpandang, namun semua itu tidak membuat dirinya terlena dalam kemewahan bahkan beliau memanfaatkan kemewahannya itu untuk lebih giat menuntut ilmu hingga menjadi ulama yang sangat dikagumi. Selain itu ulama penganut mazhab az Zahiri ini juga gemar mengabadikan keadaan pada zamannya dengan menulis outobiografi-nya, berikut salah satu tulisannya yang menggambarkan keadaan dan situasinya saat ia masih remaja, “Pada masa itu saya tinggal di antara para rumah kepala pemerintahan. Kami, termasuk saudara saya Abu Bakar, dikelilingi para pelayan gadis yang betempat di  daerah sejuk dan nyaman. Mereka berkumpul di taman bambu dan kebun  bunga rumah kami, di mana pemandangan seperti ini ada hampir di setiap kota Cordova beserta lembah dan pegunungan yang mengelilingi kota itu. Mereka berada di pintu yang terbuka yang dapat dilihat dari celah pohon kurma di mana saya berada di antara mereka. Saya ingat ketika bermaksud kearah pintu tersebut untuk mendekati seorang gadis, namun ketika aku terlihat, ia meninggalkan pintu itu dan berjalan dengan gerakan lemah gemulai. Kemudian saya di sana, namun ia berbuat seperti yang dilakukan gadis sebelumnya, dan hal ini membuat saya semakin rindu.”

Kenikmatan dan kekayaan telah terpenuhi oleh ayah Ibnu Hazm, ia memiliki dua rumah, baru dan lama, beliau menuliskan, “Ayahku pindah dari rumah baru yang dikelilingi taman bunga di sebelah tenggara Cordova kerumah lama di sebelah barat daya kota itu. Perpindahan itu, di mana saya juga ikut, terjadi pada hari ketiga masa kekhalifahan Muhammad Al Mahdi, bertepatan dengan bulan Jumadil Akhir tahun 399 H.”

Ibnu Hazm juga merupakan pemuda yang gemar mengadakan pengembaraan intelektual rihlah ‘ilmiyah bersama rekan-rekannya hal ini dapat diketahui lewat tulisannya, “Saya mengembara bersama teman-teman yang ahli budaya dan keilmuan ke sebuah kebun milik seorang teman kami. Kami duduk sesaat, lalu pindah ke suatu tempat padang yang luas, tempat pengembalaan di mana kami merenung cukup lama di antara kendi makanan ternak, suara burung-burung berkicau yang kalah merdu dengan apa yang dilantunkan Ma’bad  (biduan pada era Bani Umayyah, penyanyi dan pemusik berakhlak baik, wafat tahun 125 H),  Garidh (juga penyanyi besar), buah yang bergelayutan di antara tangan kami, kelebatan bayangan kami di antara sinar mentari yang berbentuk laksana papan catur, pakaian yang indah, air tawar yang menjadikanmu mengerti kehidupan, sungai-sungai yang mengalir bak rongga mulut ular, bunga-bunga yang sejuk. Akhlak kami melebihi indahnya semua pemandangan, ini yang terjadi pada musim semi di bawah naungan sinar mentari yang dibungkus kabut tipis dan kadang timbul di antara gumpalan awan, bagaikan gadis cantik yang pemalu, timbul dan hilang di antara tabir yang mebuat rasa gemas dan terlena di antara kami, serta seakan menganugrahkan kepada yang lainnya.”

Keadaan ini tak berlangsung lama karena terjadi peralihan kekuasaan dari satu penguasa ke penguasa lainnya sebagaimana yang Ibnu Hazm gambarkan. “Setelah kepemimpinan Hisyam Al Muayyad, kami mendapatkan banyak kesukaran dan perlakukan otoriter dari para pemimpin negara. Kami ditahan, diasingkan, dan dililit utang serta diterpa banyak fitnah sampai wafatnya ayah kami yang menjabat sebagai menteri. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu setelah waktu Ashar, dua malam terakhir bulan Zul Qa’dah 402 H.” peristiwa kelabu itu sebenarnya telah menimpa keluarga Ibnu Hazm sejak setahun sebelumnya ketika saudaranya Abu bakar meninggal dunia akibat wabah yang menyerang Cordova pada bulan Zul Qa’dah 401 H dikala beliau berumur 22 tahun. “Beragam fitnah dan cobaan terus menimpa penduduk Cordova sampai kemudian mereka mengungsi ke kota Almeria, ‘zaman kesusahan pun terjadi’ lalu kami meninggalkan rumah-rumah yang ditaklukkan pasukan Barbar. Saya meninggalkan Cordova pada awal Muharram 404 H sampai berlalu Selama 6 tahun atau lebih.” Tulis Ibnu Hazm.  

Keilmuan

Ibnu Hazm terkenal dengan keilmuan yang mendalam dan kebudayaan yang luas. Hal ini tidak dipungkiri oleh tokoh-tokoh semasanya, baik yang mendukung maupun yang menentang. Ia menguasai banyak perbendaharaan ilmiah dan ensiklopedi pada masanya yang membuat kagum para tokoh dan dipuji. Al Imam adz Zahabi berkata, “Ia (Ibnu Hazm) dikenal sangat cerdas, kuat hafalan, dan luas perbendaharaan keilmuan.” Semenara Al Gazali berkomentar tentang karya Ibnu Hazm, Fi Asma’ Allah al Husna yang menunjukkan kekuatan hafalan dan kecerdasan pribadinya. Menurut Abu al Qasim Sa’id, para tokoh Andalusia sepakat adanya penguasaan ilmu-ilmu Islam, luasnya pengetahuan mereka tentang ilmu logika, dan besarnya sumbangsih Ibnu Hazm di bidang balaghah, syair, sunnah, dan atsar. Al Humaidi berkomentar tentang Ibnu Hazm, “Abu Muhammad Ibnu Hazm dikenal hafiz di bidang hadis, menguasai istimbath hukum-hukum dari al Qur’an dan sunnah, menguasai beragam ilmu dan beramal dengannya.”

Ibnu Hazm dikenal istiqamah terhadap ilmu, kontinyu atas penyusunan buku, memperbanyak karangan, sehingga karya-karyanya melimpah ruah bagai muatan onta. Karenanya, anaknya, Al Fadhl Al Mani Abu Rafi’, berkata, “Jumlah karya-karyanya dibidang fikih, hadis, ushul, sekte, mazhab keagamaan, dan lainya seperti sejarah dan sastra, serta penolakannya atas lawannya sebanyak 400 jilid atau buah buku yang jumlahnya sekitar 80.000 lembar.” 

Ini merupakan suatu prestasi yang tidak pernah dilakukan seorang pun semasa kedaulatan Islam sebelumnya kecuali oleh Ja’far Muhammad bin Jarir Al Tabari. Karena dialah yang terbanyak karyanya diantara para tokoh Islam.  Nyatanya Ibnu Hazm mendapat pujian dan sanjungan, karena kita tidak menemui tema keilmuan kecuali di dalamnya terdapat sumbangsih besar dari Ibnu Hazm. Oleh itu bisa kita lacak karya magnum opus-nya al Fashl fi al Milal wa al Ahwa’ wa an nihal, menggambarkan bagaimana Allah swt menganugrahkan ilmu dan keutamaan-Nya kepada ulama ini. 

Selain sebagai penulis produktif hal lain yang membedakan Ibnu Hazm dengan ulama pada umunya adalah karirnya yang pernah menjabat sebagai menteri beberapa priode, hal ini makin menambah keilmuannya pada hal-hal yang berhubungan dengan pemerintahan, walaupun pada akhirnya beliau meletakkan jabantannya sebagai menteri dan kembali menekuni profesi lamanya sebagai penulis dan ahli debat. Berhubungan dengan aktifitasnya dalam ranah politik Ibnu Hazm melahirkan sebuah karya yang dipandang sangat bermutu yaitu Naqth al Arus. Beliau juga menerangkan dengan jelas alasannya berhenti dari pemerintahan, “Kemudian situasi di Negeri Barat dan Timur berubah menjadi hina dina sehingga disebut sebagai ‘zaman makelar’ dan ‘kehinaan manusia’ agar Allah swt memperlihatkan hamba-hamba-Nya yang berselisih dan saling menipu.”

Karakter

Ibnu Hazm memiliki karakter dan prilaku terpuji lagi mulia dan berilmu, hal ini layak untuk kita kaji dan diskusikan, beberapa hal yang patut kita ketahui adalah: a) Ibnu Hazm menguasai beberapa karya tokoh masyarakat beserta dalil dan argumentasinya. Ia juga hafal tokoh-tokoh masa lalu dan menghubungkan ilmu-ilmunya dalam sebuah diskursus pemikiran di antara para ulama dan ahli hukum; b) Ibnu Hazm dikenal dengan keluhuran dan keindahan pribadinya. Ibnu Bisykawal ketika memujinya hanya dengan mengatakan, “Ia dikenal seorang yang mengamalkan ilmunya.” Ia juga dikenal rendah hati dan selalu bersyukur sebagaimana ungkapan beliau, “Jika saya mengagumi ilmu kamu, sesungguhnya tidak ada ketinggian bagimu dalam hal itu, karena itu adalah semata-mata pemberian Allah swt kepadamu. Kamu tidak boleh mengamalkan ilmu yang membuat-Nya murka karena bisa jadi Dia melupakanmu dari ilmu yang ada padamu sehingga kamu tidak hafal dan tidak mengetahui… wahai ahli ilmu! andai seseorang belajar dengan sangat gigih, niscaya masih ada yang lebih unggul dari dirinya. Sesungguhnya itu semua adalah karunia Allah swt.”; c) Ibnu Hazm memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam meredam gejolak hawa nafsunya, baik dikala muda maupun telah berumur, bagaimana tidak, hal ini dapat kita lihat kehidupannya yang mewah dan serba lengkap dalam istana yang dikelilingi oleh para pelayan bak bidadari yang cantik nan molek, namun ia tidak terjerumus dalam maksiat. Ia pernah menulis tentang keadaannya ini, “Demi Allah Yang Maha Mengetahui, sesungguhnya rumahku memiliki halaman luas dan serasi, tubuhku berpostur bagus, namun demi Allah, sarungku tidak pernah menyentuh kemaluan wanita yang haram dan Allah menjagaku dari perbuatan zina sampai dewasa hari ini.”; d) Ibnu Hazm adalah ulama yang ahli debat, perdebatan sengit antara dirinya dan sebagian ulama lain yang berusaha memojokkan dan menghujatnya telah memberi pengaruh mendalam pada dirinya, hal ini terlihat dalam karyanya ‘al fashl’, dan diikuti dengan karyanya yang lain, beliau berujar, “Dari perdebatan dengan orang-orang jahil, saya telah mendapatkan manfaat besar berupa ketajaman pikiran, kematangan pribadi, dan peningkatan aktivitas. Ini semua juga menjadi penyebab tersusunnya banyak kitab bermanfaat, dan seandainya tidak ada penghujatan dan kritikan mereka terhadapku niscaya tidak akan tersusun banyak karya.” Sikap ikhlas Ibnu Hazm menjadi kunci kemasyhuran pribadinya, yaitu berani menyuarakan kebenaran dengan tidak memperdulikan apakah manyarakat suka atau tidak, sama baginya antara celaan dan pujian. Kebenaran senantiasa mendorongnya untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, dan wajib baginya untuk menyuarakan kebenaran itu tanpa tedeng aling-aling sebagaimana yang dikatakan salah seorang temannnya yang hidup semasanya, “Ia mengetahui banyak ilmu dan tidak mengetahui siasat ilmu.” Para sejarawan sepakat bahwa pendapat Ibnu Hazm sangat radikal, keras, dan tegas. 

(Ilham Kadir, Mahasiswa PPS UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur)


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an