Posts

Showing posts from January, 2013

Mengenal Aliran Keagamaan NU

Image
Refleksi atas Hari Lahir NU Ke-87; Di suatu hari, pada tanggal 31 Januari 1926 M yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H, tiga ulama besar menggagas sebuah perhimpunan yang mereka namai Nahdatul Ulama (NU). Mereka   adalah KH Hasyim Asy’ari (1872-1947) dari Tebuireng-Jombang, KH Abdul Wahab Hasbullah dari Surabaya (1888-1971), dan KH Bisri Syansuri (1886-1980) dari Denanyar-Jombang. Mereka bertiga-lah yang mati-matian memperjuangkan agar organisasi NU mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda yang akhirnya diakui empat tahun kemudian, tepatnya 6 Februari 1930. Sebenarnya NU juga bermetamorfosis, pada awalnya berasal dari sebuah organisasi pergerakan bernama   Nahdlatul Wathan ‘Kebangkitan Negara’ yang berdiri pada tahun 1916. Sebuah organisasi yang khusus dibentuk demi menampung pergerakan para santri dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Selanjutnya Nahdlatul Wathan berevolusi menjadi Nahdlatul Fikri atau ‘Kebangkitan Pemikiran’ dan pada perkembangan selanjut

Mengungkap Kebohongn Kang Jalal

Image
Kejujuran teramat penting dalam kehidupan. Jujur harus menjadi kebiasaan manusia, terlebih mereka yang bertakwa dan menyebut dirinya kaum terdidik, intelektual, dan cendekiawan. Namun ada saja di antara mereka yang menamakan diri di golongan tersebut yang belum terbukti jujur   dalam penampilan diri menyandang gelar tertinggi dalam bidang akademik namun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Salahsatu fenomena yang mengusik kita adalah Bapak Jalaluddin Rakhmat (JR) yang di mana-mana tertulis namanya sebagai doktor (DR) bahkan professor (Prof). Namun kami menerima informasi akurat bahwa yang bersangkutan belum berhak menyandang Prof, bahkan gelar doktornya pun masih dipertanyakan. “Bapak Jalaluddin Rakhmat belum memiliki gelar Guru Besar di Unpad; untuk gelar Doktor (Dr), secara administratif kami belum menerima ijazahnya.” Demikian surat klarifikasi rektor Unpad Bandung, Prof. Ganjar Kurnia, no: 9586/UN6.RKT/KU/2012, tanggal 23 April 2012, perguruan tinggi di mana JR terc

Islamisasi di Tanah Bone: Antara Kebenaran dan Harga Diri

Image
Masyarakat Sulawesi Selatan yang didominasi oleh suku Bugis dan Makassar adalah masyarakat yang adaptif, inovatif, dan kreatif hal ini dapat dibuktikan dengan begitu cepatnya beradaptasi dengan budaya luar yang lebih dulu maju dan berkembang, seperti India, Cina, Persia, Yunani, dan Arab. Salah satu ciri khas bangsa yang maju adalah memiliki media untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting. Media yang dimaksud adalah “tulisan” yang dapat mengabadikan peristiwa masa lampau untuk manjadi bukti sejarah yang paling autentik. Salah satu peristiwa penting yang layak untuk dikonsumsi adalah paparan lontara (kronik) dalam proses islamisasi di Tanah Bugis.   Dituliskan bahwa setelah daerah dan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan memeluk agama Islam, maka Sultan Alauddin Awwalul Islam adalah dai yang tak kenal lelah mengajak para raja-raja untuk memeluk Islam, termasuk dalam Raja Bone, La Tenri Ruwa (1607 – 1608) kakek   Arung Palakka dari putrinya We Tenri Sui’   yang