Posts

Pendidikan Era Disrupsi

  Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA. * Tahun baru tiba, para orang tua yang anaknya akan masuk tahun ajaran baru atau masuk perguruan tinggi tahun ini mulai membuat strategi dan kebijakan agar ekonomi rumah tangga tetap stabil dan anak-anak yang akan lanjut sekolah berjalan mulus. Sebagai bahan referensi dalam membuat keputusan yang tepat, jangan sampai pendidikan justru memiskinkan. Lalu, kemana anak sebaiknya sekolah? Dan bagaimana mereoreintasi tujuan pendidikan?   Gadis berparas ayu itu merupakan seorang sarjana ilmu pemerintahan, jebolan universitas negeri bergengsi di Makassar, setiap hari ikut membantu meringankan pekerjaan orang tuanya di pasar dengan berjualan aneka makanan dan minuman. Gadis itu yatim, ayahnya meninggal dunia ketika masih duduk di bangku SLTA. Sementara ibunya, tidak memiliki penghasilan lain selain menjual makanan dan minuman di emperan pasar. Serupa tapi tidak sama, seorang gadis yang kuliah di jurusan keperawatan, dengan biaya yang cukup mahal, selain itu,

Pertemuan Terakhir dengan Petta Cinnong

  Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA., Alumni MQWH Tuju-Tuju 1993. "Sesungguhnya manusia itu menjadi buah bibir orang-orang yang ditinggal, maka jadilah kamu perbincangan yang baik bagi orang-orang setelahmu."   Komunikasi saya dengan Petta Cinnong selama ini terus terjalin, baik ketika merantau ke Malaysia sekitar tahun 1999-2005 maupun ketika ketika kembali ke Indonesia. Sewaktu mengajar di Sekolah Menengah Arab An-Nur, Benut Pontian, Johor, saya biasa mengirim surat padanya, mengabarkan keadaan dan kegiatan saya sebagai guru dan pengasuh di sekolah tersebut. "Beliau [Petta Cinnong] sangat suka kalau ada santrinya yang mengabari kegiatannya, apalagi Antum bertahun-tahun diajar dengan beliau," kata Dr Muttaqin Said sewaktu berkunjung ke tempat saya di Johor. Sewaktu kembali ke Indonesia dan merintis Pondok Pesantren Al-Qur'an Hidayatullah, Sememal, Tanjung Balai Karimun, saya biasa berkomunikasi via handphone dengan Petta Cinnong. Setelah mengetahui nomor handph

Pelajaran dari Petta Cinnong

  Oleh: Ilham Kadir, Alumni MQWH Tuju-Tuju 1993. Masyarakat Bugis, pada zaman dahulu, khususnya di zaman kekuasaan para raja, strata sosial dibagi menjadi beberapa tingkat, yang tertinggi adalah anakarung atau keturunan para raja, lalu to panrita atau ulama, seterusnya to acca atau cendekiawan, to warani atau ksatria, lalu to sugi atau para orang kaya [saudagar], lalu to maradeka, atau orang merdeka, dan terakhir adalah ata' atau hamba sahaya. Para anakarung, setelah Indonesia merdeka, dan kerajaan dilebur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, para anakarung tetap memiliki posisi dan tempat di tengah masyarakat. Demikian adanya, karena mereka dikenal dengan adab yang tinggi, diperkuat dengan tetap memegang status quo di tengah masyarakat, disebabkan karena pendidikan yang tinggi sehingga jabatan-jabatan tertentu masih dipegang oleh keturunan anakarung. Walau seiring bergulirnya waktu, banyak anakarung kalah populer dan kalah saing oleh orang-orang biasa yang berhasil dala