Posts

Tragedi Wamena

Image
Oleh: Dr Ilham Kadir, MA., Peneliti MIUMI; Dosen STKIP Muhammadiyah Enrekang

Bunuh dia, bakar dia! Begitu teriak para perusuh di Wamena dengan jumlah ratusan, di tangan mereka tombak, busur, parang dan bensin, ujar Dewi (30) ketika berada di mes yang dihuni lebih dari dua puluh orang itu, ia tidak tau mau buat apalagi. Mereka mengepung mes tempat tinggalnya, lalu dibakar. Ada dua orang yang mencoba keluar dari pintu, langsung dibacok dan dibakar. Mobil truk tiga unit ikut dibakar. Mereka yang berada di dalam rumah pun hanya menunggu maut. Terlintas dalam benaknya untuk sembunyi di dalam kandang ayam yang tersambung ke rumah. Ketika perusuh itu hendak masuk ke kandang, dihalangi oleh drum besar. Ketika itu, anak, adik, dan iparnya yang tidak ikut sembunyi di kandang ayam hangus terpanggang. Ketika api menjalar ke kandang ayam, tetiba dua das tembakan berbunyi.Ternyata polisi datang, perusuh pun bubar. "Wajah mereka hampir sama, sebagaimana muka orang Papua, terlihat mereka mayorita…

Mohamad Shahrour dan Penyimpangan Intelektual

Image
Oleh: Dr. Ilham Kadir, Peneliti MIUMI; Ketua INFOKOM MUI Enrekang
Mohamad Shahrour atau di Indonesia ditulis ‘Muhammad Syahrur”, lahir tahun 1938 asal Kecamatan Shalihiyya, Damaskus. Memulai pendidikan dasar di SD Negeri al-Midan, wilayah selatan Ibu Kota Suriah. Setelah tamat dari SMU setempat, Shahrour memperoleh beasiswa untuk belajar teknik sipil di Saratow, dekat Moskow, selama tujuh tahun (1957-1964). Di sanalah ia berkenalan dengan pemikiran intelligentsia Marxis yang cenderung eksentrik dan anti status quo. Memang, seperti disitir oleh Andreas Christmann,pendekatan Shahrour terhadap teks Al-Qur’an mirip dengan strategi subversiveyang diperkenalkan oleh Bohuslav Havr├ínek dan Viktor Shklovsky. Metode utamanya ialah defamiliarisasi dan habitualisasi di mana seorang pembaca menyikapi dan memperlakukan teks dihadapannya seolah-olah sebagai barang asing dan baru sama sekali.
Setelah menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 dalam bidang mekanika tanah dan teknik fondasi di University College…

Hijrah Bersama Ibu Kota

Image
Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA.*
Kata al-hijrah merupakan lawan kata dari al-washol atau sampai dan tersambung yang secara umum dibagi menjadi dua makna. Hijrah fisik dan hijrah maknawi. Hijrah fisik adalah meninggalkan satu wilayah menuju wilayah lain, atau perginya satu kaum dari sebuah negeri ke negeri lainnya sebagaimana yang terjadi pada umat Islam yang hijrah dari Makkah ke Madinah, atau pindahnya Ibu Kota Republik Indonesia dari DKI ke Kalimantan Timur. 
Secara maknawi, hijrah dapat diartikan sebagai sebuah peralihan kondisi buruk menuju kondisi yang lebih baik, dari kekufuran menuju keimanan, dari syirik menuju tauhid, dan dari bid’ah dan khurafat menuju sunnah-sunnah Rasul yang terpuji.
Motif hijrah juga bermacam-macam, namun selama itu tujuannya baik, maka dibolehkan. Sebagaimana yang pernah terjadi kepada para pendahulu kita. Rasulullah penah mengizinkan para penggembala untuk meninggalkan kota Madinah ketika sedang terjangkit wabah di Madinah dan mereka berhijrah ke tempat gembala…

Qurban Berdayakan Desa

Image
Oleh: Dr Ilham Kadir MA, Peneliti MIUMI; PimpinanBAZNAS Enrekang.

Seorang nenek berusia 60 tahun, Sahnun namanya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka ia pun berprofesi sebagai pemulung di jantung kota Mataram. Sahnun merupakan tipe manusia pemurah, ini dibuktikan dengan kebiasaannya berqurban setiap tahun ketika lebaran haji tiba. Bahkan tahun ini, nenek berusia renta itu berqurban seekor sapi dengan harga 10 juta rupiah. 
Kebiasaan masyarakat Indonesia untuk berbagi dengan sesama diperkuat dengan data ilmiah dan akurat dari World Giving Index pada tahun 2017 yang menempatkan negara Indonesia pada urutan ke-2 secara global sebagai negara dengan penduduk yang paling dermawan. Dan salah satu wujud kedermawanan seseorang adalah dengan cara menyembelih hewan qurban pada lebaran Idul Adha.

Membedah Tipologi Kemiskinan

Image
Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA. Peneliti MIUMI; Pimpinan BAZNAS Enrekang
Ditilik dari sudut bahasa, miskin berarti lemah ekonomi, papa, dan hina. Dari sudut istilah berarti tidak memiliki harta atau penghasilan yang cukup untuk menutupi kebutuhan hidupanya selama sebulan. Kondisi miskin sedikit lebih baik dibandingkan fakir, sebab yang disebut fakir adalah mereka yang tidak memiliki harta dan penghasilan untuk menutupi kebutuhan hariannya. Golongan ini kebanyakan berasal dari lansia dan cacat permanen yang tidak memungkinkan untuk berkeja dan menghasilkan upah, pendapat ini diperkuat oleh beberapa ulama besar, termasuk Qatadah. Beda antara fakir dan miskin juga dilihat dari sisi usahanya mendapatkan makanan harian, umumnya golongan miskin masih berupaya keliling tempat meminta-minta, mencari recehan dan sesuap nasi, sedangkan fakir hanya diam di rumah menunggu uluran tangan. 
Dalam kenyataannya, baik Al-Quran maupun hadis kerap menggunakan kata miskin dibandingkan dengan fakir, sebab posisi …

STIBA Ar-Raayah, dan Kampus Islami Masa Depan

Image
Ilmu adalah denyut nadi dan napas kehidupan. Tanpa ilmu, manusia seperti binatang. Laulal-‘ilm lakana-nas kal baha’im, demikian kata orang bijak. Segala bentuk aktivitas tidak bisa dipisahkan dengan ilmu. Inilah yang disitir oleh Imam Bukhari, katanya, al-‘ilm qablal-qaul wal ‘amal. Berilmu sebelum berkata dan berbuat.

Dan, mungkin, ilmu yang paling remah dalam agama adalah mengetahui adab masuk kamar mandi (WC) dengan menggunakan kaki kiri, ketika keluar, menggunakan kaki kanan.

Lalu bagaimana cara mendapatkan ilmu? Tentu dengan belajar, menggunakan wasilah berupa alat dan sarana, ada guru, materi ajar, hingga metode. Antara satu dengan lainnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. 

Pembahasan kali ini akan diperkerucut. Semacam studi kasus dalam artian yang lebih sempit. Dalam hal ini, saya angkat Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar-Raayah yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi. Apa dan bagaimana istimewanya sekolah ini dibanding yang lain? Ikuti saya.

Masjid dan Miniatur Bernegara

Image
Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA., Peneliti MIUMI; Imam Masjid Nurut-Tijarah Enrekang Secara bahasa masjid berasal dari kata ‘sajada-yasjudu’ artinya sujud, dan masjid bermakna tempat bersujud. Dari sudut istilah masjid adalah bangunan atau tempat dan ruangan khusus yang dipergunakan untuk menunaikan salat serta kegiatan sosial dan keagamaan lainnya. Dalam hadis Nabi sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan bahwa hakikatnya bumi ini adalah tempat sujud, dan tanahnya suci, “Dijadikan seluruh bumi ini untukku sebagai masjid [tempat bersujud untuk salat] dan alat untuk bersuci.” Hadis ini menjadi pembeda dengan syariat nabi-nabi sebelumnya, sekaligus sebagai gambaran keistimewaan nabi akhir zaman. Sebab, nabi-nabi yang diutus sebelumnya, hanya dibolehkan sembayang di tempat-tempat tertentu dan tanah tidak bisa dipakai bersuci.