Posts

Zakat Melalui Pendekatan Struktural

  Oleh: Dr Ilham Kadir MA.*   Ditinjau dari perspektif disiplin ilmu, zakat merupakan bagian dari ilmu ekonomi, ada pun dalam perspektif hukum Islam, zakat merupakan bagian dari syariat yang harus dijalankan bagi mereka yang telah memenuhi syarat dan rukunnya. Dalam perspektif teologi, zakat adalah pilar agama Islam, bagi yang enggan berzakat karena bakhil dihukum fasik, dan bagi yang tidak mau berzakat karena mengingkari zakat sebagai rukun Islam dihukum murtad atau kafir secara ijma.   Zakat juga disebut sebagai 'ibadah maaliyah' atau ibadah yang terkait dengan harta dan berdimensi sosial, ijtima'iyah. Itu berarti zakat mencakup segenap dimensi dalam agama Islam, baik akidah, syariah, maupun muamalah. Maka wajarlah kalau ibadah zakat melibatkan negara atau konstitusi dari pusat hingga daerah.   Sejak lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat, lalu terbit pula Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2

Zakat Melalui Pendekatan Kultural

  Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA .* Sebut saja namanya Ibu Hajjah, berprofesi sebagai pedagang dan suaminya sebagai petani. Ia memiliki pengalaman hidup yang menarik untuk dijadikan referensi, khususnya dalam teori sharing mechanism atau saling berbagi antar sesama, baik melalui zakat maupun infak dan sedekah.   Suatu ketika, ketika saya masih menjabat sebagai Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Enrekang, Ibu Hajjah masuk di ruangan saya. "Ustad, saya mau bayar zakat, bagaimana caranya," tanyanya. Zakat apa? Tanya saya. Saya habis panen jagung, setelah saya jual, hasilnya ada 30 juta, lalu saya potong ongkos operasional, total bersih saya terima 20 juta, jadi berapa zakatnya? Terang Ibu Hajjah.   Kalau pertanian sejenis ini, zakatnya 5 persen, jadi kalau sudah dijual jagungnya, zakatnya cukup bayar saja dengan uang, totalnya satu juta rupiah. Lalu saya doakan, "Ajrakallahu fima a'thaeta wa baaraka fimaa abqaeta, Semoga Allah memberikan pahala t

Mengkavling Sunnah

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA. *   Sepasang suami istri kerja di bank konvensional yang dinaungi oleh Perusahan Negara atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Keduanya mendapat gaji cukup tinggi, melebihi kebutuhan sandang, papan, dan pangan mereka. Dengan penghasilan tinggi mereka menyisihkan sebagian penghasilan untuk infak, dan sedekah, terutama kepada para kerabat. Khusus untuk orang tua, mereka menyediakan khusus biaya untuk menutupi seluruh kebutuhan, sebagai bagian dari berbakti pada orang tua. Dalam Islam dikenal dengan "birrul-waalidain".    Tidak lama kemudian, semua berubah. Suami-istri itu, berhenti bekerja di bank milik BUMN, berawal dari ceramah yang ia dengarkan dari para ustad-ustad sunnah, bahwa bekerja di bank hukumnya haram, dan semua gaji dari bank juga dihukum haram, dan seluruh harta yang dibeli lalu digunakan dari gajinya semuanya haram. Karena itu, mereka berdua sepakat undur diri dari pekerjaannya, tanpa ada pertimbangan lain, pokoknya ingin bekerja